Monday, January 28, 2008

Kaliandra dalam Berita

Perhutani KPH Pasuruan memberikan hak pengelolaan kepada LMDH untuk dijadikan hutan pendidikan setelah ada kerjasama antara Perhutani KPH Pasuruan dan LMDH Ngudi Lestari yang difasilitasi oleh Yayasan Kaliandra.

baca selengkapnya pada:

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2008/01/14/brk,20080114-115399,id.html

Sunday, January 27, 2008

Berbeda dari biasanya .....

dari kunjungan ke Desa Nusa, Mukim Kueh - Kampanye Pride oleh Zakiah (Yayasan PeNA)

Pride di Aceh, bukan saja menghadapi tantangan klasik sebuah kampanye ...tapi juga tantangan lain .. yang mungkin hanya ada di Aceh: 'berkompetisi ' dengan lembaga-lembaga lain ... yang menawarkan 'ikan' daripada 'pancing' . Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap berbagai lembaga yang dengan segala daya upaya berusaha membantu rakyat Aceh untuk kembali membangun daerahnya setelah situasi konflik militer maupun bencana tsunami ... namun inilah salah satu tantangan yang dihadapi oleh PeNA (juga Mapayah) ketika menjalankan Pride. Kebetulan kawasan kerja Pride yang dikoordinir oleh Zakiah, juga merupakan salah satu area yang mengalami bencana tsunami. Ada begitu banyak pertemuan, ada begitu banyak kegiatan pelatihan/pendampingan masyarakat, ada begitu banyak bantuan materiil yang bersifat langsung maupun tidak langsung, bagaimana Pride - dengan sumberdaya yang sangat terbatas dan fokus pada mendorong pemberdayaan diri - bisa menarik perhatian dari masyarakat?



"apa yang dilakukan teman-teman PeNA sangat berbeda. Setelah tahap perencanaan, dimana saya ikut dalam salah satu diskusi kelompok, sekarang ada kemajuannya, ada pelaksanaan programnya ... Saya harap ini bisa berlanjut semacam ini terus ke depan" - demikian pendapat Pak Madan - tokoh motivator desa Nusa yang juga eks-GAM, ketika ditanyakan mengenai program Pride yang dijalankan oleh Yayasan PeNA. Pak Madan sangat ingin masyarakat di desa nya bisa kembali berjuang untuk kesejahteraan hidupnya. Bukan saja karena bantuan untuk hidup sehari-hari dari berbagai pihak semakin berkurang, bagi Pak Madan kesuksesan dan kesejahteraan hanya akan diperoleh oleh mereka yang rajin dan bekerja keras. Jika kita ingin hidup lebih baik, maka usaha dari diri sendiri lah yang menentukan. Selain itu, Pak Madan sangat mengharapkan pola kehidupan saling tolong menolong di antara warga juga bisa terbina dengan baik.


(foto: Pak Madan - tonggak kayu yang terbakar di sisi kiri, merupakan salah satu bukti konflik bersenjata yang terjadi 10 tahun lalu)


Melalui Pride, Zakiah dan tim dari Yayasan PeNA berusaha menghidupkan kembali kebun-kebun yang terlantar (dalam bahasa Aceh disebut Peudeep Lampoh) serta mendorong penerapan prinsip-prinsip ekologi dan keanekaragaman hayati dalam menghidupkan kembali kebun ini. Hingga saat ini, lebih dari 50 orang petani telah menyatakan komitmennya untuk melakukan peudeep lampoh dengan menerapkan prinsip keseimbangan ekologi, serta lebih dari 2000 bibit pohon tanaman buah maupun kayu keras telah ditanam di kebun-kebun ini. Yang menarik, kegiatan peudeep lampoh ini dapat mendorong bangkitnya swadaya dan kerjasama di antara warga desa. Jes Putra - Pimpinan PeNA menyatakan - peribahasa yang termuat pada poster Pride "Umang Meu Ateung, Lampoh Meu Pageu, ..." (berarti: "Sawah dibatasi pematang, kebun dibatasi pagar, ...") ternyata mampu mendorong terjadinya swadaya di masyarakat untuk membuat pagar yang kuat dan layak bagi kebunnya, juga menggali lubang tanam di lahan yang dimiliki, dengan usaha sendiri karena kuatnya dorongan untuk maju dan tidak tergantung pada bantuan orang lain.





Thursday, January 24, 2008

GALESTO” bernyanyi untuk mendukung pelestarian Hutan Seulawah

Oleh:
Cut Meurah Intan - Yayasan MAPAYAH

Kelompok Musik “Galesto” mengeluarkan single perdananya berjudul “Hutanku Hutanmu Jua, Selamatkan Dia”. Lagu ini dibuat sebagai upaya menggalang dukungan masyarakat Saree dan Jantho terhadap kelestarian hutan Seulawah dalam Kampanye Bangga Melestarikan Alam. Lagu ini merupakan satu dari 4 buah lagu bertemakan pelestarian hutan yang akan diluncurkan pertengahan Januari 2008. Kegiatan Kampanye Bangga ini didukung sepenuhnya oleh USAID melalui program pelayanan jasa lingkungan ESP, Rare, serta Masyarakat Lembah Seulawah & Kota Jantho.

GALESTO - terdiri dari Restu, Erwin, Agus, Azmi, Nita, Nidia, Ola, Imel, Tia, dan Srie- merupakan pelajar SMA yang dikenal memiliki bakat seni musik di sekolah mereka di Kecamatan Lembah Seulawah dan Kota Jantho. Galesto difasilitasi oleh Mapayah Foundation sebagai bagian dari kegiatan Kampanye Bangga Melestarikan Alam. Lagu-lagu yang dibawakan dalam album ini mencoba menjangkau masyarakat luas mengenai peran penting hutan terhadap ketersediaan air bersih. Semua lagu di dalam album ini diciptakan sendiri oleh GALESTO, terinspirasi dari kondisi hutan yang ada di sekitar mereka. Galesto berharap lagu ini mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk melestarikan hutan, karena semua orang tahu bahwa hutan adalah sumber kehidupan. Srie Aprilia, salah seorang anggota GALESTO secara khusus mengharapkan “semoga pendengar lagu ini sadar bahwa menghancurkan hutan sama dengan menghancurkan diri kita sendiri”.


Kampanye Bangga ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di Kawasan Ekosistem Seulawah melalui perbaikan pengetahuan, sikap, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan. Upaya pelestarian hutan tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri namun harus muncul sebagai sebuah gerakan bersama sehingga masyarakat Naggroe Aceh Darussalam, terutama Kec. Lembah Seulawah dan Kota Jantho dapat terus menikmati manfaat hutan saat ini dan di masa yang akan datang.